Kamis, 29 Maret 2012

Contoh Cerpen Fiksi (B.Indonesia)

        
 2 PELANGI INDAH DI MATAMU


Titik demi titik air hujan menetes di jendela kamar ku.. menatap langit yang kusam tak ada bedanya dengan perasaan ku kini. Tak ada senyum, tawa, dan bahagia seperti alam yang menangis hati ku pun menangis. ku tunggu hingga hujan mereda sampai tak sadarkan diri aku pun terlelap di kaca jendela.

Aku berjalan menuju lorong kelas, di ujung lorong ku lihat si pujaan hati. tersunggingkan sedikit senyum di raut wajahku tapi sayang ia tak melihatku menatapnya. kadang aku selalu berangan-angan dapat menyentuh wajahnya, melihat senyumnya, dan tertawa bersamanya tapi ku tahu itu hanyalah khayalan mimpi yang tak akan pernah jadi nyata karena aku mungkin bukan orang yang pantas dengannya ia pintar dan menarik perhatian sehingga banyak orang yang menyukainya. tapi kadang kulihat ia berbeda penyendiri dan kadang bersikap dingin.

kesedihan yang tak pernah berakhir hanya dapat melihatnya dari jauh dan selalu berangan-angan berharap dirinya dapat menyambut tapi nikmati saja aku yakin suatu saat keajaiban akan datang. Fikirku.
    
Kulanjutkan langkah menuju kelas tempat ku belajar dan bercanda ria bersama teman-teman. Ku lihat dari kejauhan sesosok berperawakan tinggi, ramput model cepak, dan berkaca mata sedang bersandar di depan pintu kelas. sesekali matanya celingukan seperti mengawasi sesuatu dan ternyata GUBRAAAKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!  Sosok itu Boim sahabat sejak aku masih sekolah dasar.

Ku datang menghampiri dan mengagetkannya .
“hayyooo... lohh Boim.. !!!!!!!!!!!!!” Boim terkejut menepuk dadanya beberapa kali dan menelan ludah.
“ahhh.... ello zye, gue kirain si mona..”
“ciiiieeee.. nunggu mona nii yee.. pritikiw.. !!” kata ku meledek.
“pritikiw.. pritikiw yang bener tuu prikitiw tau..” jelas boim membenarkan.
“iya..iya terserah, gue kan gak bisa bilang prikitiw.”
“nahh.. itu loe bisa??” tanya boim heran.
“itu kan Cuma contoh.. im.” Jawabku tak mau kalah.
“sumpah daaah dasar loe ratu GJ.” Cela boim.

Dasar boim-boim. aku masuk ke dalam kelas, boim mengikuti ku dari belakang kayak kebo ngikutin emaknya, kemudian boim duduk di sebelah. ku simpan tas punggung ku di atas meja dan menyanggahkan lengan untuk sandaran kepala yang menghadap ke arah boim. dengan spontan aku bertanya pada boim.
“ehh.. im kalo menurut loe nii yaa gue kayak gimana sii ??”
“dibilang kayak monyet loe udah turunan nya kali, di bilang kaya kebo mungkin.. bisa juga hheheheh.” Jawab boim cengengesan.
“ahh itu sii elo monyet, keluarga loe ajja di ragunan. Serius im menurut loe gue kayak gimana terus gue cantik apa enggak??” tanya ku pede.

Boim tersenyum kecil dan menjawab.
“loe perfect kali loe sahabat gue yang paling baik, pinter, dan loe juga cantik.. tapi hati-hati... ” belum sempat boim melanjutkan pembicaraannya aku langsung memotong.
“hati-hati apa im??” tanya ku penasaran.
“tapi hati-hati idung loe kembang kempis.. mentang-mentang udah gue puji kayak gitu.. hhahahahahaha.” Boim tertawa puas di depan ku..
“dasar loe GJ.” Celaku.
“mungkin gak siih im dia suka sama gue??” sambung tanya ku pada boim.
“ooh.. jadi si mr.cool itu?? Ehmm gue gak tahu lain kali aja bahasnya.” Sambil membalikan badan ke arah lain.
“lho.. xo gitu sii im??”

Aku heran kenapa setiap kali aku menanyakan si mr.cool itu pada nya boim seperti menghindar tak ingin dengar. apa yang ada di fikirannya tak pernah mengerti. huuuph hari ini hujan lagi aku berharap pada akhirnya akan ada pelangi yang senantiasa memberi warna pada alam yang selama ini terlihat kusam.

Bel pulang berbunyi “treng..treng..treng” semua murid dan teman-teman ku bersiap-siap dan bergegas untuk pulang termasuk aku. kali ini aku disuruh untuk membawakan setumpuk buku ips ke ruang guru, sambil berjalan  aku tidak melihat ke depan akhirnya aku menabrak seseorang  dan semua buku berjatuhan..
“sorry.. gue gak sengaja.”kata ku Sambil membereskan semua buku.
“gak apa-apa xo zye.. gue bantu yaa.” Terdengar suara tapi tak kutahui siapa dia.

Sepertinya aku kenal suara itu perlahan ku lihat wajahnya.
“sammy..”

Tak di sanggka orang yang ku tabrak mr.cool.
“thankz yaa..”
“iya sama-sama .” jawab sammy sambil tersenyum..

halllaaaaah... mimpi apa ini?? Sekarang dia senyum.. batin ku kegirangan.

Bibir ku tak dapat berucap dan aku juga tak tahu apa yang ingin aku katakan. Hari yang membuat ku senang, tapi bagaimana dengan boim sejak tadi aku tak melihat nya lagi. Dag..dig..dug.. jantung ku berdegup kencang aku merasa ini hanya mimpi atau khayalan tapi semakin aku menatapnya semakin aku percaya ini adalah kenyataan.
“gue suka merhatiin loe dari dulu, tingkah kocak loe sama boim, liat loe ketawa-ketiwi.. boim pasti seneng punya sahabat kaya loe..” kata sammy.

Wajah ku memerah tersipu malu.
“hhehehehe.. serius loe?? Boim emang sahabat gue dari jaman gue masih ingusan ampe sekarang udah mau jenggotan... hhehehe” tembalku sambil cengengesan.

Aku dan sammy tertawa puas menceritakan tingkah konyol boim..

Tak terasa waktu berlalu. semakin lama semakin dekat dengan sammy. disatu sisi aku senang tapi disisi lain aku merasa kehilangan. Kehilangan sahabatku yang selama ini selalu menemani kemanapun aku pergi, memberikan aku semangat, dan lelucon. Boim sekarang menjauh, setiap kali sms tak pernah di balas, kalau pun bertemu kadang selalu membalikan badan, menundukan kepala, memalingkan wajah, pura-pura tak melihat.. apa yang ada di fikirannya???.

Aku benar-benar marah, kenapa seperti ini?? Aku menarik tangan Boim dan berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi padanya. 
“im.. gue mohon loe jangan kayak gitu, sekarang loe udah beda.. mana boim yang dulu waktu loe senyum.. mana boim yang yang selalu bikin gue semangat?? Dulu kita suka bareng-bareng tapi sekarang gue kehilangan loe..”
“kehilangan?? Bukannya loe baru dapet kebahagiaan sama pujaan hati loe itu???” jawab boim dengan cetus.
“jadi hanya karna itu?? Loe berusaha menjauh dan menghindar?? Tapi kenapa sii im??” tanya ku sambil memegang erat tangan boim.
“sorry zye.. gue gak mau ganggu hubungan loe sama sammy. gue gak mau jadi orang ketiga diantara loe berdua. Jadi gue harap loe bisa bahagia sama pujaan hati loe..” boim melepaskan tangan ku dari tangan nya dan kemudian pergi meninggalkan aku.

Boim selalu ada di dalam fikiran ku setiap detik, setiap menit, setiap waktu. aku baru menyadarinya sekarang ternyata boim sangat berarti untuk ku tanpanya terasa sepi. aku merasa hampa dalam kesendirian ku. aku menangis berharap akan ada malaikat datang mengibur. tapi malaikat tak bersayap itu pergi menjauh dari ku dan membuat ku semakin sedih. Setiap hari tak ada semangat, tak ada senyum di wajah ku, wajah murung tak ada gairah yang terlihat. setiap hari ku menyendiri di mushola sebari menenangkan hati dan fikiran.

Tanpa di sadari boim selalu memperhatikan ku dari jauh mungkin dia dapat merasakan perasaan ku saat ini tapi dia selalu diam seolah dia memang tak peduli tapi aku percaya boim akan kembali lagi meskipun harus menunggu.
*** 

Aku datang ke tempat yang selalu membuat ku merasa damai . Suatu saat nanti aku ingin mengajak seseorang ke sini, seseorang yang ku sayang, seseorang yang istimewa untukku. 

Di sekolah. teman–teman ku terus saja mengeluh karena wajah ku selalu kusut hoalllaaaah. Aku berfikir sejenak “bener juga yaa... aku jangan sedih-sedih terus aku yakin dan percaya waktu aku sedih di ujung bahagia pasti akan menanti.” 

Hari ini ku awali pagi dengan senyum melebar dengan semangat Rezye. Aku berdiri di atas batu yang sangat besar ku teriakan keinginanku “AKU INGIN DIA KEMBALI, AKU INGIN SEPERTI DULU, TUHAN TOLONG AKU KABULKAN KEINGINANKU SAAT INI JUGA DAN UBAH INI HANYA SEBUAH MIMPI.”

Saat ku pejamkan mata, meresapi, menghayati, merasakan yang ku rasa dan ku lihat kosong yang ku dengar hanya suara air hujan semakin terasa perlahan-lahan kubuka mata dan yang terjadi... “selama ini aku ketiduran... Ohh My”

Aku segera bergegas pergi menuju rumah Boim dengan mengendarai sepeda motor.
“Boim...Boim...Boiiimmmm.” teriak ku di depan rumahnya.
“Wooiii... gak usah teriak-teriak kali gue juga denger.” Sambil menggesekan mata.
“Im... ikut yuu.” ajak ku pada boim
“kemana zye??” tanya boim heran
“udah lah.. ikut aja gue juga gak bakalan ngapa-ngapain loe xo.” jawab ku memastikan
“serius nii.. ikut gak yaa?? Awas loo kalo macem-macem.” boim meledek
“cepedakh... siapa juga yang mau ngapa-ngapain loe gak nafsu juga kali...” kata ku.

Aku mengajak Boim ke tempat itu. aku ingin memperlihatkan sesuatu yang indah. Dengan semangat, ku tancap gas sepeda motor ku sampai melaju dengan kencang. Boim yang ketakutan memeluk erat pinggang ku dan bersandar di punggungku, sampainya di tempat tujuan aku menggandeng tangan Boim.
“Im ... loe tau gak?? Kalo gue sedih, gue punya banyak masalah gue dateng ke sini. Di sini gue tenang, disini banyak inspirasi hidup dan motivasi untuk tetap tegar. Gue tau setiap kesedihan pasti akan ada bahagia, di balik gue gagal pasti akan ada keberhasilan.” Boim tersenyum kecil.
“semua itu pernah gue alami im. waktu gue seneng, sedih, gue pernah merasakannya.” Timpal ku lagi.
“ ehh...zye liat dehh” kata boim sambil menunjukan telunjuk ke depan.

Pelangi perlahan-lahan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu muncul dari bawah hingga puncaknya terlihat jelas. pelangi yang senantiasa memberi warna saat alam sedang terlihat kusam, memberikan keindahan dan ketentraman bagi mahluk sekitarnya begitu pun aku dan Boim.
“im... ada pelangi... tapi kali ini gue liat 2 pelangi. pelangi yang akan selalu abadi dan tersimpan utuh di dalam hati. Gue yakin pelangi itu gak akan pernah pudar untuk selamanya...”

Sekarang dan untuk selamanya untuk selamanya aku tak ingin lagi kehilangan Boim sahabat yang aku sayang sampai kapanpun kita akan selalu bersama karena Tuhan selalu ada untuk kita.. YOU AND ME FRIENDSHIP 4EVER...
***

 

Kisah Pocong

 

kejadian ini dialami oleh sahabat gue, kejadiannya di Larangan saat dia masih SMP. biasanya sahabat gue dan temen”nya berkumpul sepulang sekolah di rumah teman yang lagi kosong. hari itu mereka berkumpul di rumah teman yang lokasinya di pinggiran pasar. saat bercanda tercetuslah ide untuk membuat pocong"an. selepas isya mereka mulai menyiapkan pocong"an. pocong tersebut diikat dengan tali panjang dan digantung di pohon dipinggir jalan, saat ada orang yang lewat tali dilepaskan dan pocong"an tersebut seakan" melayang turun dari atas pohon.
semua orang yang lewat dan melihatnya akan lari tunggang langgang.sampai saat seorang polisi berpakaian dinas lengkap lewat dan lari terbirit" karena melihat pocong"an tersebut. karena takut polisi tersebut kembali mereka memutuskan menyudahi permainan dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah yang sedang kosong tersebut ada beberapa kamar dan mereka bermain kartu di kamar paling belakang. Setelah lelah bermain kartu sahabat gue ini mencoba untuk tidur sementara yang lain meneruskan permainan kartu. Karena diganggu oleh temen yang lain sahabat gue milih untuk pindah tidur ke ruang tengah dan tidur di sofa depan tivi. Disinilah semua bermula ...
Tengah malam entah jam berapa sahabat gue kebangun. Ruang tengah itu agak gelap karena lampunya tidak nyala, tapi masih ada cahaya dari ruangan lain. Saat dia mencoba untuk tidur lagi dia mulai mendengar suara pelan duk     ...      duk    ...     duk seperti suara orang menumbuk padi, suara itu berkelanjutan dan semakin lama semakin jelas. 
Duk      ...      duk     ...      duk    ...     duk
Walaupun takut sahabat gue ga mau lari ke kamar, dia maksain tidur lagi. Badannya dihadapkan ke senderan sofa dan mukanya ditempelkan ke sandaran sofa. Bunyi duk ... duk ... semakin jelas dan perlahan terdengar sangat dekat. Bunyi tersebut akhirnya terdengar memutari sofa dan berhenti di belakang badannya. Hening ... sahabat gue mencium bau busuk padahal mukanya di benamkan di bantalan sandaran sofa. Tak lama dia mulai merasakan ada yang memaksa badannya untuk berbalik ke depan sofa, tapi ga ada yang menyentuh badannya. Akhirnya dia menyerah dan badannya perlahan bergerak menghadap ke depan. Setelah badannya terlentang dia cuma bisa memaksa matanya untuk tetap tertutup. Badannya gemetaran dan basah oleh keringat dingin, tangan dan kakinya terkulai lemas. Saat terlentang bau busuk semakin tercium. Sahabat gue mulai merasa ada sesuatu yang mendekat ke mukanya dan dia mulai merasa ada yang memaksanya untuk membuka mata walaupun tidak ada yang menyentuh matanya. Saat matanya terbuka itulah dia melihat pocong yang sedang berdiri dan membungkukkan badan di depan sofa. Muka pocong itu cuma sejengkal dari muka sahabat gue. Sahabat gue bisa melihat muka hancur si pocong dari sela” kain kafan yang sudah robek dan hancur. Dia melihat ada belatung dan nanah di muka si pocong. mata si pocong masih ada tapi bentuknya sudah ga karuan. Menurut sahabat gue dia melihat detail muka si pocong. 
Setelah beberapa lama si pocong menegakkan badannya lagi, berbalik dan pergi. Bunyi duk ... duk ... duk ternyata berasal dari lompatan si pocong. setelah pocong itu menghilang entah kemana dan bunyi duk ... duk ... duk tidak terdengar lagi sahabat gue lari ke kamar tempat teman”nya bermain kartu. Teman”nya nanya kenapa mukanya pucat dan bajunya basah. Tapi sahabat gue ga bisa ngomong, hanya gemetaran di atas kasur. Setelah dua hari berlalu sahabat gue baru bisa nyeritain kejadian itu ke temen”nya. Well thats it ...


BUNGA SETANGKAI DUKA

Biarkan waktu mendewasakan kita,biarkan cinta bersemi dari sudut perbedaan,karena kita dengan yakin datang dari warna berlainan.Suatu ketika jiwaku bicara sangat pelan, dan jika banyak percekcokan antara
kita,adalah kedewasan tetap harus diposisikan
paling depan,setidaknya ada harapan untuk dapat memperbaiki,kaca telah retak terbang bersama perbedaan menukik membuat garis antara kesucian dan ikrar yang kita ucapkan Kerapuhan
telah membuktikan bahwa semua cinta
mengambang seperti tenggorokan seekor katak berkhayal untuk menggelembungkan perutnya
sebesar kerbau,tentu kenyataannya semua akan
tertawa … menjauhkan kepala dari
pergumulan kedewasaan,mencoret warna dengan kuas hampir tak pernah ada bedanya
Kini mungkin kita sama-sama untuk
mendinginkan kepala,setelah kapas terbang tak
berkerangka,setelah hari banyak
membaca tentang nurani setelah sekian lama kerinduan
Mengakhiri malam dengan tanpa bintang-bintang,hanya gemercik kegelapan seperti biasa menjadi teman paling
akrab dengan baju yang lusuh diterpa dinginnya angin malam,membuat
banyak serapah adakah sebuah warna terlena
dengan molek wajah penuh kesempuranaan.
Telah lama semua lagu itu kudendangkan,setidaknya harapan untuk merapihkan suasana akan mengalir seperti buih dimakan warna birunya langit.

Namun adalah kegelisan menunggu ketidak pastian,mengambang membuat ribuan pertanyaan
“ Kini kita tinggal ribuan tangisan … !? “
Nyatanya aku kini terkapar mati karena cinta.
“ Tuhan seandainya ibuku disebelah kepalaku,tentu ia akan menangisiku yang dalam keadaan khina begini,jika saja ayahku ada disini tentu ia akan menolongku,memandikanku serta mengkafaniku dan jika saja sahabat karibku ada disini tentu ia akan menangisi kepergianku yang untuk selama-lamanya ... !!? “.
Semoga kau bisa menterjemahkan perasaanku selama ini,karena keyakinan telah menumbuhkan kepastian.Jiwamu adalah
kerasnya batu karang, tapi kiranya air bah mungkin akan mampu membuatmu melemaskan diri dengan banyak pengertian.
Tetapi adalah duka memburakan, “ Aku seoarang lelaki merasa sangat malu,mengemis banyak keinginan,sedangkan kau terus menginjak mata duka dengan bibir hampir mengatup penuh rasa muak.
“ Biarkan dukaku melayang keketinggian langit menghitam,biarkan keinginanku terkubur bersama langkah kaki yang makin jauh dari rasa duka dan kasihan dan biarkan tangisku mengalir membasahi ujung jubah yang kukenakan hampir tak pernah
kulepas hingga tangisku sendiri berhenti dikelokan ... !!? “
Adalah jiwa-jiwa malam mengingatkan ku akan peristiwa itu.Empat puluh pekan lalu ... artinya ratusan hari rasa sepi itu,harusnya aku hayati apa yang ada dihari ini adalah sebuah pilihan .
Kegagalan itu ... kemuakan itu ... menjadi tembang yang sangat menggigil bila didendangkan,mengalunkan warna percuma ditelinga manusia dan menjadi kerinduan yang sangat menjijikan.Apa yang kau karang tentang duka menjadi irisan dalam mata hati. sungguh sangat membuat jiwaku bergetar,membuat rintihan seorang musyapir yang berjalan digurun pasir bebatuan tanpa air dan rasa untuk berteduh disana,lalu dikejauhan terlihat kilauan mata air berlebihan dihampirinya dan ternyata hanya fatamorgana menari penuh kekeriangan.
Kini jiwaku orang terbuang ,jauh dari pengabaian diri sendiri,menikung dengan jubah yang kukenakan hampir seumur hidupku.
“ dimana kau kekasihku setelah menyakitiku ... !!? “
tinggal senyummu seraut sembilu ... tinggal mukamu sebait puisi,yang tertinggal bersama kamboja dan helai daun gugur bersama musim yang berbicara banyak cerita.
Namun tangan –tangan tuhan adalah diluar nalar manusia.kini datang padaku ribuan bidadari berbaju putih,melambaikan banyak tangan,mengukir senyuman hampir di setiap sudut pengabaian diri.Sungguh kebahagiaan jenis apa ... langitku kini biru kembali,memamerkan banyak awan ... menuai warna-warna biru hingga menjadi susunan tentang sayap-sayap yang bercerita tentang Romeo dan Juliet.
Sungguh Jiwaku bergetar sangat hebat.Seorang rupawan menawarkan warna malam penuh dedaunan hanya kebegoan mungkin menampik semua itu,sebuah pergumulan melampaui banyak cerita tentang alam yang dihuni para malaikat didataran penuh sayap-sayap tak berkerangka.
Ternyata sungguh tuhan adalah tuhan dan manusia adalah manusia cintaku seumur malam cintaku berakhir dibawah ratapan sebuah tangisan.
Cintaku hanya berkelana sebatas dogma dan khayalan ,hanya membuat pilu betapa seorang Adam harus berpisah dengan Hawa hanya karena huldi yangmenyesatkan.cintaku kembali berkelana di trotoar memungut banyak kesedihan menyimpul jari-jari dan mengusung keranda dengan usungan kesakitan yang dikarang oleh tuhan.
“ Tuhan matikan cintaku bersama kamboja kemalaman ... lalu sinari hatiku dengan sabit dibulan muharam hingga rohku ikut melayang bersama sepi dan dedaunan yang gugur dimusim hujan ... !!?? “ Sementara jangan tinggalkan rohku dipersimpangan hingga membuat banyak orang mengaduh tentang rasa duka dan rasa kasihan.Biarkan cintaku terkubur bersama cintanya. Cinta mati dan cinta suci adalah persudaraan yang erat hingga cinta itu sendiri mati terkapar yang kedua kali.



           DILEMA (ANTARA SAHABAT DAN CINTA)



Aku masih terpaku menatap lekat-lekat sosoknya.Seorang gadis yang sebaya denganku, yang telah cukup lama menjadi teman akrabku.Aku pun hampir tidak mengingat, bagaimana kami bisa saling mengenal dan berlanjut menjadi seorang sahabat.Ya, sahabat. Sesuatu yang spesial bagi tidak sedikit orang.Sosok yang selalu ada saat kau jatuh hingga kau telah berada di atas angin.


Keisya.Merupakan panggilan akrab untuknya.Dikatakan dewasa, dia sungguh kekanak-kanakan.Disebut penyabar, tidak selalu seperti itu keadaannya. Namun entah karena hal apa aku sanggup berlama-lama di dekatnya. Waktu satu jam bukan lagi waktu yang cukup memuaskan bagi kami untuk saling bercerita dan berkeluh kesah. Mulai dari segala hal yang sedih, aneh, lucu, keren menurut versi kami, dan banyak lagi hal-hal tak penting yang kami bahas.
‘Sahabat Selamanya’


Sekiranya itu adalah ikrar setia kami untuk terus bersama hingga tangan Tuhanlah yang memisahkan. Jika kalian pernah membaca sebuah novel Firefly Lane karya Kristin Hannah, kalian pasti akan menemukan dua tokoh yang telah membuktikan kesetiaan janji mereka. Janji untuk bersahabat selamanya.Terlalu berlebihan memang, jika kami harus disejajarkan dengan kedua tokoh istimewa itu, Tully dan Kate. Namun, dalam segala situasi yang penuh dengan kecambuk akan kelabilan ego kami masing-masing, kami mencoba untuk bisa memenuhi janji kami sabagai sahabat selamanya.


Hingga semua itu berubah keadaannya.Terjadi begitu saja.Dan berhasil menghancurkan semuanya dalam sekejap.Tepat di pertengahan Oktober lalu, semua itu kepahitan berawal dan sebuah hubungan yang erat pun berakhir.Penghianatan.Sebuah kata kunci yang terasa pantas untuk disandang.
*******


“Sya,…….”. tiba-tibaKeisya datang padaku dengan berderai air mata. Seperti biasa, ia meletakkan kepalanya di pundakku.
Ada apa, Kei? Cerita aja, nggak usah kaya begini lah”.
“Kak,….”. ucapnya menggantung. Tampak keraguan darinya untuk bicara.
“Iya, Dik… Ada apa?”
“Dia jahat, Kak… -hikshikshiks L-“, ucapnya terisak.
“Maksudmu?”
“Farhan mutusin aku, Kak”.
“Apa?Bagaimana bisa?Awas aja kalau aku ketemu ama dia. Huh!” seruku geram penuh umpat pada Farhan.“Memang apa yang sudah terjadi?Kalian bertengkar?”
Keisya hanya terdiam.Isaknya terdengar makin dalam.Makin perih menusuk relung batinnya.“Baiklah, kalau kamu nggak bisa cerita nggak apa-apa.Tapi ingat ya, aku selalu ada buat kamu”, ucapku berusaha menghiburnya.
“…. J….”. ia hanya tersenyum dan menatapku mendalam. “Terimakasih Rasya. Terimakasih”, ucapnya diiringi dengan jatuhnya bulir-bulir bening pada pipinya.
“Yang penting kau bahagia, Dik. Bukankah kita akan menjadi sahabat selamanya?”.
“Untuk sahabat sejati selamanya”, sahut Keisya sambil mengaitkan kelingkingnya pada kelingkingku.Tampak sebuah senyum tersungging di wajahnya.Ia tampak manis, meski aku tahu ia tengah membohongi dirinya sendiri dengan senyumnya yang penuh kegamangan saat ini.
******


Hari-hari muram buat Keisya telah berlalu.Dapat terlihat lagi auranya yang periang dan senyumnya yang menggoda. Dengan centilnya ia menghidupkan suasana di kelas kami. Mungkin, itu salah satu alasan mengapa aku rela menjadi sahabatnya.
“Wah, lagi seneng ni ye…”, godaku padanya.
“Maksud kak Rasya apa sih?Dateng-dateng langsung nyeplos begitu? Plis deh,…”, timpalnya padaku.
“Sepertinya ada sesuatu nih. Makanya si putri ini lagi doyan nyegar-nyegir nggak jelas”.
“Emang menurut kakak begitu ya?” ujarnya tanpa menatap aku, sambil nyegar-nyegir tak jelas.
“Inggih, Sayang…. Emang ada apa toh? Cerita dong”.
“Rasya tahu Bramasta kan?”
“Emang kenapa?”
“Orangnya perhatian ya, Kak. Baaaiiikkk banget”


Aku sangat terkejut akan apa yang baru saja dikatakan Keisya. Entah aku merasa ada sesuatu mengganjal di hatiku.Ada serpihan rasa tak rela yang menghujam dada.Seketika lidahku kelu. Tanpa ingin membuatnya kecewa akan responku yang tidak cukup baik, ku lemparkan senyum padanya. Berharap ia tak menyadari akan adanya kegamangan dalam hatiku.
*****


Mulai saat itu, Keisya tak lepas dari topic yang membahas tentang Bramasta.Anak laki-laki di sekolah kami yang bisa dikatakan tenar. Berperawakan tinggi, putih, bermata sedang, dan jika tersenyum maka akan timbul sebuah cekungan di sudut pipinya. Dan semenjak hari itu pula, waktu malamku terasa panjang dan melelahkan.Bramasta adalah kawanku saat kelas 4 SD dahulu. Kedua orangtua kami pun sudah cukup mengenal.Tak jarang Ibu mengundang mereka –Bramasta dan keluarga- dalam setiap acara penting keluarga kami, begitu juga sebaliknya.Kami tergolong dekat, walau kini pada nyatanya hubungan kami semakin merenggang. Bahkan jika aku menceritakan hal ini pada teman-teman di sekolah ku kini, sungguh mereka akan benar-benar tidak percaya. Mustahil untuk dapat dipercaya oleh mereka.Tak apalah, sempat mengenal bahkan mejadi kawannya pun jadi hal istimewa buatku.Dan semua yang telah terjadi  antara aku dan Bramasta seakan sudah cukup memberikan alasan untuk menumbuhkan rasa kagum dari ku untuknya.


Dengan terus melajunya sang waktu, rasa kagum itu kian menjalar, merambat dan bersarang ke dalam ruang-ruang kosong di benakku.Semakin lama, semua rasa itu kian mendalam. Dan kini, . . . .tepat dihadapanku. Seorang gadis yang telah kuanggap bak saudara, menceritakan sosok Bramasta dengan binar-binar kekaguman yang tampak di matanya.
“Apa kamu mengagumi, Bramasta?” tanyaku tiba-tiba pada Keisya.Semua terasa terlontar begitu saja dari mulutku.


Keisya diam., tersenyum dan melempar pandangannya pada goresan putih yang menggantung di langit biru yang gagah. “Menurutmu Rasya? Apakah seperti itu adanya?” ucapnya kemudian. Tergores sebuah senyum dari bibirnya.
*****


Entah untuk yang ke-berapa kalinya aku membolak-balikkan tubuhku di atas ranjang.Nyanyian jangkrik terdengar makin lantang, seiring dengan terhentinya suara riuh manusia yang rutin terdengar di pagi hari. Dari balik jendela, cahaya bulan telah memberi warna perak pada pepohonan di luar sana. Lambaian tirai-tirai di kamarku seakan mengabarkan bahwa sang angin darat telah menjaga nelayan-nelayan yang tengah memulai harinya demi sepincuk nasi. Ku lempar pandangan pada jam dinding yang menggantung di seberang ranjangku. Pukul 02.00.Hingga saat ini kedua mataku enggan terpejam, walau perihnya mata ku rasa sudah.Kata-kata Keisya pagi tadi masih terngiang jelas dalam anganku.“Ah, aku tak boleh seperti ini. Pun tak ada guna aku mementingkan hatiku sendiri.Toh, Bramasta tak memiliki perasaan apapun padaku. Bukankah cinta tak harus memiliki?” batinku lirih.Cinta.Inikah rasanya?Sesuatu yang selalu terdengar indah, magis, dan luar biasa, telah menjangkit diriku.Sesuatu yang selalu dibuat istimewa oleh para pengarang maupun penyair. Tapi,… mengapa semua seperti ini? Terasa sakit, berat, dan memilukan.Makin meracuni alam pikiranku yang kalut.Sungguh buruk kenyataan cinta yang sesungguhnya.Namun semua kembali pada satu pertanyaan singkat, “Pantaskah aku merasakan cinta saat ini?”
*****


“Sya,…Rasya!” panggil Nadine tergopoh-gopoh.
Ada apa?Santai aja lagi, nggak usah lebay sampai mengos-mengos begitu”.Ucapku sekenanya.
“hosh.. hosh..  Itu…hosh hosh… emmm, i..ttu lho…” ucapnya tak jelas sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
“Hadeh, ngomong apa to, Mbak yu… atur napas dulu dah, tenang”.
Dalam waktu sepersekian detik, Nadine kembali bernapas normal. “Kei,….Kei,.. Kei, Rasya..”
“Kei? Ada apa? Kenapa Keisya?” responku panik seketika.
“Dia lagi berantem di kantin. Anak-anak malah pada nyorakin mereka, ngomporin gitu-….”
“Oke, makasih”.Responku singkat dan segera berlari ke arah kantin.Walau aku tahu bahwa Nadine belum selesai bicara tadi. Aku harap ia tidak marah dan bisa mengerti.
Gerombolan anak laki-laki dan perempuan riuh, membentuk formasi lingkaran tak beraturan. Mereka meneriakkan nama Kei dan Teressa. Segera ku berlari menuju kerumunan dan beradu badan dengan yang lainnya agar aku dapat menempati posisi terdepan. Begitu sampai di barisan depan, dapat ku lihat Kei dan Tere yang saling menjambak. Wajah mereka berdua merah padam, sama-sama terbakar emosi menggebu.Tak membuang waktu aku menuju ke tengah-tengah berharap dapat melerainya.
“Hei, hentikan!Hentikan semua ini!” teriakku cukup keras.Sialnya suaraku kalah terdengar daripada teriakan masal yang tengah mendukung jagoan mereka yang tengah bertanding.
‘Bruak!!!’


Aku jatuh tersungkur saat aku berusaha menengahi mereka berdua. Tangan Tere mendorong tubuhku keras secara tidak sengaja –mungkin memang tak sengaja, aku tak tahu-. Keisya menatapku yang merintih lekat-lekat.Ia melepaskan diri dari rengkuhan tangan Tere, dan bergegas menghampiriku. Masih dengan wajah yang merah padam, Tere mentap aku dan Keisya bergantian.Tatapan yang seakan bermakna, aku-akan-memberikan-pelajaran-yang-lebih-dari-ini-anak-bau-kencur. Ia berlalu dengan senyum puas karena merasa telah menang atas Keisya.
“Kamu nggak apa-apa, Rasya?”
“Yang seharusnya Tanya itu aku, Bodoh. Kamu nggak apa-apa?”
“Sial, semua gara-gara cewek jelek dan bawel itu.Awas aja dia. Berani banget dia macem-macem sama kamu, Sya”, umpatnya kesal bukan main.
Kei berdiri dan berjalan menghampiri Tere yang melangkah belum jauh dari TKP sebelumya. “Tere! “ teriak Kei. Tere berbalik, “Apa lagi anak bawang?”
‘Plak!’


Pukulan keras melayang dari tangan Kei ke pipi Tere. Saat tangan Tere hampir meyentuh permukaan pipi Kei, sebuah tangan menghentikannya.
“Bramasta”, ucap Tere dan Kei hampir bersamaan.
“Udahlah, kalian jangan kayak anak kecil sepeti ini.Apa kalian nggak mikir kalau perbuatan kalian mencoreng nama baik kalian sendiri?” ujar Bramasta sok bijak.
Tanpa berkata sepatah katapun, Tere berlalu.Terbesit kilatan amarah yang kian berkobar di matanya.Bramasta menatap wajah Keisya teliti.“Panampilanmu acak adul banget.Sumpah. Kamu juga luka, di obtain ke UKS gih,…….”


Bulir-bulir bening mengalir mulus di pipiku.Aku tak kuasa lagi untuk menahan genangannya. Hatiku benar-benar terasa terguncang melihat apa yang terjadi pada Rasta dan Kei. Mereka kini tengah berdiri di hadapanku, berjarak sangat dekat. Tampak rasa cemas dari air muka Rasta. Aku berlari.Menjauh dari pemandangan yang memekakkan luka di hatiku.Aku berlari megikuti kemana pun langkah kaki terarah.
*****


“Kak Rasya, tunggu..”, Kei memanggilku yang sedari kemarin berusaha menghindrinya. “Sya, kamu marah sama aku?Apa karena aku berantem waktu itu ya? Aku minta maaf”.
Ku tatap mata bulatnya mendalam. Mata yang membuat setiap orang akan menaruh simpati padanya. “Iya aku maafin kok.Lain kali jangan kamu ulangi, inget orangtuamu nggak pernah ngajarin kamu untuk berantem kaya ayam bodoh.Apalagi ini Cuma hal sepele”.
“Maaf, Sya. Aku….” Air mata menggenang di kedua pelupuk matanya, selang beberapa detik bulir-bulir bening itu tumpah ruah. “Maafkan aku, Sya,,,”
Ku raih tubuhnya dan ku dekap ia. Aku beruaha untuk menentramkan hatinya.“Iya, kei aku maafin kamu. Dan aku juga minta maaf ya, Kei….”
Kei menarik dirinya dari tubuhku.Ia menatapku, “Maaf? Untuk apa?”
“Untuk,….segalanya, Kei. Segalanya”, jawabku mnggantung.Aku terus terhanyut dalam tatapan matanya. “Kei maafkan aku yang belum seutuhnya rela melepaskan perasaanku pada Rasta untukmu”, batnku dalam hati.
“Oke, daripada larut dalam kesedihan yang super nggak jelas gimana kalau nanti kita hang out. Makan bakso atau mi ayam?” tawar Kei padaku, sambil menyeka jalur yang membekas atas air matanya.
“Aku kenyang. Mungkin lain kali. Aku minta maaf”.
“Sayang sekali. Tapi, tak apalah”
|”Emm, kalau boleh tahu ada masalah apa, antara kamu sama Tere?”
“O, jadi gini ceritanya-..”.
*****


Matahari kian meninggi.Panasnya sungguh menyegat, serasa membakar hangat ubun-ubun kepala.Ku kayuh sepeda menuju perpustakaan umum.Dalam kondisi kalut seperti ini, ku luangkan sedikit waktu untuk sekedar mambaca buku, berharap semua masalah dapat terlupakan walau hanya sekejap.
Begitu sampai di dalam. Ribuan buku yang tertata rapi dalam rak-rak yang saling berjajar. Ku perintahkan langkah kakiku menuju kumpulan buku yang berlabel “Sastra dan Karya Fiksi”.
“Rasya!” tiba-tiba sebuah suara yang tak asing bagiku terdengar keras memanggil.
“Hei, Kei! Tumben ke sini.Sama…?” belum genap aku menyelesaikan kalimat tanyaku, sosok Rasta menyusul di belakang Kei.“Sepertinya aku sudah tahu jawaban atas pertanyaanku sendiri”. ujarku kemudian.
“Ku akui kau memang cerdas, Rasya”.
“Hei, Rasya! Udah lama banget nggak ketemu.Ngilang kemana aja kamu?”Rasta tiba-tiba datang dan menyapa ku.
“Bukankah yang selama ini sering ngilang itu kamu ya?Secara anak tenar gitu?”
“Bisa aja kamu, Sya.Kamu belum berubah ya.Masih pinter ngeles kaya dulu”.
“Oh ya?” jawabku singkat.“Aku emang nggak berubah, Rasta.Begitu juga perasaanku ke kamu. Mungkin selamanya akan tetap sama”, benakku kemudian. Jujur saja, seketika jantungku berdebar kencang, aliran darahku mengalir begitu cepat.Tubuhku gemetar.Tangan dan kakiku terasa kesemutan.
“Ehem..ehem… ada yang dikacangin di sini nih”, Kei berkomentar atas suasana yang terjdi.
“Wah, ada yang marah ni ye”, godaku.
“Oke.Kei, bisa kamu cerita gimana kamu bisa kenal dan bersahabat sama cewe bawel, cerewet, dan cengeng kayak dia?”
“Oh, gitu? Awas kamu ya”.
“Kamu ngancem ceritanya nih?” goda Rasta padaku.


Mulai detik itu, ku rasakan kembali kedekatanku dengan Rasta. Dan dapat ditebak, aku semakin sukar menghapusnya dari hatiku. Seakan ada harapan untukku. Jujur saja, aku merasa dia sangat perhatian kepadaku. Aku nyaman berada di dekatnya. Aku sering menghindari kontak mata dengannya, aku tak kuasa menatapnya lama. Tak jarang Rasta tersenyum geli dengan tingkahku yang serba salah. Namun, kami tidak hanya berdua saja dalam melewati hari. Ada Keisya. Sahabatku yang juga saingan hatiku akan Rasta.*****
‘Drrrrtt,,,ddrrrrtt,,’


Handphone ku bergetar.Ada sebuah pesan dari Rasta. Jujur, aku telah menantikannya sejak semalam. “. . . Happy Birthday, Friend. Moga tambah suskses aja dan selalu berada dalam naunagn rahmat-Nya.Amiin. O ya, Sya hari ini aku mau ngundang kamu untuk makan bareng keluarga aku.Toh, udah lama juga kita nggak makan bareng.Jangan lupa kenakan gaun ungu itu. Aku harap kau menyukainya. . . .”, sms panjang lebar dari Rasta membuatku gembira dan bingung. Gembira tas undangannya dan bingung perkara gaun ungu yang ia sebutkan dalam pesannya. Gaun apa yang ia maksudkan?
“Kei, kamu nerima titipan nggak? Kiriman pos gitu, ada nggak?” tanyaku pada Keisya yang kini tinggal seatap denganku. Kini lagi-lagi kami kuliah di tempat yang sama. Dan ujung-ujungnya, kami memutuskan untuk tinggal di rumah kos satu atap.
“Hah, ng..ng kiriman… tt .. ttittipan? Ng..ng.. ng… aku nggak tahu tuh. Emang kenapa?” jawabnya dengan air muka yang aneh seketika.
“Nggak, aku butuh banget barang itu.Ada hal penting untukku.Terimakasih”.
Yap, aku pasti akan memberimu kabar seputar kiriman yang datang, Rasya. Itu pasti.”
“Aku percaya padamu, Kei”.
“Ngng, Rasya,…”
“Iya, Kei?”
“Selamat ulang tahunJ”
“Terimakasih, Sobat.  Kau yang terbaik”.
*****


Hatiku masih terbalut gelisah dan bersalah. Gaun pemberian Rasta tak berjejak, hilang. Aku pun tak menghadiri undangan makan malam dari keluarga Rasta. Aku tak tahu harus berkata apa pada mereka perkara gaun yang hilang itu. Aku malu. Rasta maafkan aku.
‘Bruak!!’
Sebuah kotak bersampul hitam jatuh dari lokerku. Penasaran, ku buka bungkusan kotak itu.Dan ku lihat isinya, sebuah kaset rekaman dan sebuah buku harian yang persis dengan milik Keisya. Apa maksudnya ini. Tak betah didekap penasaran, ku setel rekaman itu. Dan ternyata……
******


“Apa maksudmu melakukan ini semua, Keisya? Apa salahku padamu?” makiku pad Keisya setibanya aku di rumah. Awalnya aku tak percaya akan apa yang ku lihat dalam rekaman itu, tapi pernyataan Keisya pada buku hariannya cukup menjadi bukti.


. . . Tuhan, sungguh aku tak rela ini semua terjadi.Ternyata selama ini Kak Rasta lebih menaruh kagum pada Rasya.Bukan padaku! Tadi pagi, aku menemukan sebuah bingkisan bersampul ungu di depan pintu. Dibawa penasaran, kemudin ku buka isinya. Ternyata itu adalah kado ulang tahun dari Rasta untuk Rasya .Sungguh hati ini terbakar. Hatiku berkecamuk. Haruskah aku utamakan sahabatku atau perasaanku? Tak berselang lama, ada seorang gadis kecil melintas di hadapanku. Ku panggil ia, dan ku berikan gaun ungu itu padanya. Aku berkata padanya, bahwa ia harus memakai gaun ini jika tiba waktunya nanti. Ia tersenyum bahagia dan berlalu. Kembali aku menitihkan air mata. Rasya, maafkan aku.Sungguh aku tak kuasa menerima semua ini..  Rabu, 20 Oktober. . . .
“Rasya, aku… ak akk,..akkuuuu….”
“Sudah cukup, Kei.Aku lelah denganmu. Benar apa yang Tere katakan padaku. Kau memang tak punya hati. Kamu lebih mementingkan urusan dan kebutuhanmu sendiri.”.
“Tere? Apa yang telah ia katakan?”
“Tak penting. Yang terpenting adalah, aku telah menyadari bahwa kau adalah seorang penghianat besar. Aku kecewa padamu”.
“Aku bukan penghianat. Aku sahabatmu, Sya’.
“Sahabat? Tidak lagi untuk sekarang dan seterusnya”. Usai bicara aku lekas berlalu.
“Rasya,…”


Langkahku terhenti. Hatiku berontak untuk mencabut semua yang telah ku ucapkan. Namun, emosiku tak dapat teredam lagi. “Oh ya, Kei. Mulai siang ini aku tidak lagi seatap denganmu. Semoga kau segera tenang atas kepergianku. Dan,… terimakasih”, ucapku tanpa berbalik.
******

‘drrrrtttt…. Dddrrrtttt…’
Handphoneku bergetar untuk yang ke-sekian kalinya. Terpampang nama Keisya di layar handphoneku. Sudah hampir dua minggu aku tak menjawab sms atau menerima panggilan darinya.Hatiku masih nyeri saat mengingat semuanya. Aku juga menghindari Rasta. Jika Keisya memang benar-benar menginginkannya, akan ku relakan dia. Mungkin Rasta benar-benar bukan untukku.


Ku tatap lekat-lekat  foto yang tengah ke dekap. Bergamabar 3 remaja, satu laki-laki dan dua wanita. Mereka tersenyum riang menatap kamera.Di bawahnya tertera tulisan SAHABAT SEJATI SELAMANYA.
Air mata mengucur deras.Menusuk luka hati yang seakan terlanjur bernanah.Luka hati yang tak pernah aku inginkan.Luka hati yang telah mengorbankan sesuatu berharaga dalam duniaku, persahabatanku..




Teman Bercerita

 

Aku tidak tahu pasti pukul berapa sekarang, aku bahkan terlalu lemah untuk menoleh ke arah jam dinding di sebelah kanan atasku. Yang aku tahu pasti malam sudah sangat larut. Sepertinya sudah lama sekali sejak kunjungan terakhir dokter dan suster jaga yang mengontrol selang-selang di tubuhku. Bunyi statis dari mesin yang kusebut sebagai "penyambung nyawa" di sebelahku terdengar lirih seiring dengan degub jantungku. Seperti malam-malam sebelumnya, kamar yang didominasi warna putih hijau ini begitu sunyi dan mencekam. Aku sendirian di sini. Tidak ada keluarga yang menungguikui. Orang tuaku berada di ribuan mil jauhnya dan keadaan membuat mereka tidak bisa datang mengunjungiku. Sementara Sarra, adikku, satu-satunya keluarga yang kumiliki, terpaksa pulang ke rumah beberapa jam yang lalu karena demam.
Tapi aku tidak merasa kesepian, aku sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini. Rumah sakit ini sudah menjadi rumah keduaku. Kelainan jantung yang kumiliki sejak kecil membuatku akrab dengan para dokter dan susternya, begitu juga dengan bangunan rumah sakit dan setiap sudut-sudutnya.
Sebuah suara halus tertangkap oleh telingaku. Nyaris tak terdengar namun aku dapat mendengarnya karena keheningan ruangan ini. Seperti suara pintu yang dibuka dan ditutup dengan sangat pelan. Mataku melirik ke arah pintu yang tertutup rapat.
"Khalisa. Apa aku membangunkanmu?" tanya sebuah suara yang dulu sangat akrab di telingaku namun sudah lama tak kudengar. Aku tersenyum, "Nggak. Aku belum tidur..."
"Susah tidur, Ham?" tanyanya lagi.
"Sepertinya aku sudah tidur terlalu lama. Mataku sedang capek terpejam tampaknya" aku berseloroh. Ilham tertawa kecil.
"Mau aku temani? Aku ada cerita baru," ujarnya riang. Aku tersenyum tanda mengiyakannya.
Kemudian Ilham mulai bercerita. Apapun yang ia tahu, ia alami, atau ia lihat, ia akan menceritakannya padaku. Sejak dulu Ilham memang suka bercerita. Meski dokter menyuruhnya untuk menyimpan energi yang ia punya, karena setiap ia terlalu banyak bicara ia akan terbatuk-batuk sampai mengeluarkan darah. Namun begitu, hampir tiap malam Ilham mengunjungi kamarku dan menemaniku dengan cerita-ceritanya yang menarik. Pernah ketika ia bercerita, ia tersengal, aku segera menyuruhnya berhenti dan kembali ke kamarnya. Namun ia tetap menemaniku. Dia bilang merasa kasihan denganku karena jauh dari orang tua. Padahal dia sendiri yang seharusnya lebih dikasihani karena ia yatim piatu.
Sewaktu Ilham masih bayi, seseorang telah meninggalkannya di depan pintu panti asuhan. Sebuah catatan medis yang menandakan bahwa bayi tersebut punya kelainan jantung dan paru-paru ditemukan di bawah selimutnya. Sejak itu Ilham menjadi penghuni dan pasien tetap rumah sakit yang menjadi satu dengan panti asuhan. Karena sifatnya yang periang dan cerdas, ia menjadi pasien favorit dokter dan suster di sini.
Pertama kali aku dibawa ke rumah sakit ini, aku masih kecil, mungkin MTs kelas 1. Di rumah sakit inilah aku bertemu dengan Ilham dan sejak itu aku berteman dengannya. Ilham selalu bertanya kenapa aku sering ke rumah sakit ini. Dan aku selalu membalik pertanyaannya dengan pertanyaan lain, "kenapa setiap aku ke sini selalu ada kamu?" Setelah itu kami pasti tertawa.
Sampai beberapa tahun kemudian, setiap aku dirawat di sini aku masih saja melihatnya. Dan masih sama seperti dulu, dia selalu mengunjungi aku tiap malam. Suatu hari dia tidak pernah datang lagi ke kamarku. Dia meninggal dunia pada pagi hari, setelah semalaman menemaniku dan bercerita tentang lorong gelap dan cahaya terang di ujung lorong itu dalam mimpinya. Juga tentang jurang yang sangat dalam dan ia terperosok ke dalamnya. Pada saat itu aku tidak merasa sedih, karena aku tahu Ilham sudah tidak merasakan sakit lagi.
Dan malam ini, beberapa tahun setelah kepergiannya, aku kembali dirawat di rumah sakit ini. Seperti biasa, Ilham menemaniku. Kali ini dia bercerita tentang langit.


PERSAHABATAN 
” KONFLIK BUTA “


Suatu ketika terdapat tujuh orang gadis, mereka adalah Santi, Arni, Ayu, Yuli, Wati, dan Ratna. Mereka bersahabat sudah cukup lama yaitu sekitar 3 tahun.
Pada awal mereka bersahabat, mereka selalu kompak, slalu bersama dan mereka dan saling mendukung satu sama lain.
            Setelah 2 tahun berlalu, persahabatan merekapun mulai renggang, persoalan demi persoalan selalu datang silih berganti , untuk menguji seberapa dewasakah mereka dalam menghadapi masalah. Dan yang lebih parahnya salah satu masalah itu yang bersangkutan dengan cowo. Dan setelah satu bulan berlalu merekapun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri persahabatan yang selama 3 tahun telah mereka jalani bersama. Selama mereka berpisah, setiap mereka bertemu, mereka selalu membuang muka masing – masing sepeti tak pernah kenal sebelumnya.
            Pada suatu hari, terjadi pertengkaran antara Arni dan Yuli mereka berdua saling merebutkan Yusuf, mantan pacarnya Arni.
“ eh , Yul......aku denger kamu lagi deket yah sama Yusuf.......???” ( tanya Arni )
“ emang. Tapi aku sama Yusuf cuma temen dech gak usah bohong. Semua orang juga     tahu kalo kamu sebenernya suka kan sama Yusuf......????( kata Arni marah )
“ kalo iyah emang kenapa.......???? toh kamu sama Yusuf udah putus kan,,,,,???? ( jawab Yuli dengan santai )
“ eh. Kamu sadar gak sich. Yusuf itu siapa......??? aku sama dia emang sudah putus, tapi masih sayang sama dia. Harusnya kamu bisa ngertiin perasaan aku, bukan malah menusuk aku dari belakang, itu sama aja kamu nyakitin aku, Yul,,,,!!!!! ( kata Arni sambil menangis sedih .......)
Mendengar perkataan Arni tadi, Yuli pun ikut menangis dan merasa bersalah.
“ udah, jangan nangis terus.......” ( kata Yuli berusaha menenangkan Arni )
“ kamu gak tahu perasaan aku Yul........” ( jawab Arni yang semakin sedih )
“ ya aku tau Ar, aku minta maaf, aku gak bermaksud nyakitin kamu, aku emang suka sama Yusuf, tapi aku juga gak mau bikin sahabat aku nangis, ma’afin aku yah Ar.......??? ( jawab Yuli sembari menjabat tangan Arni ).
Melihat Arni menangis teman – teman yang lainnya pun datang termasuk Aulia.
“ ada apa sich....???? kok pada nangis gitu......??? ( tanya Santi )
“ iyah. Serius banget sich.......??? ( tambah Wati )
“ ya...... pasti lagi nangisin si playboy Yusuf. “ ( jawab Aulia )
“ playboy.....???. ko kamu bisa ngomong gitu.....????? ( tanya Arni kaget )
“ semua orang juga tau kalo si Yusuf itu playboy. Aku liat sendiri ko, coba dech  liat foto ini,” ( jawab Aulia sambil memperlihatkan foto Yusuf.
“ kamu gak salah kan Aulia.......????? ( kata Arti tidak percaya ).
“ ya gak lah Ar, ngapain sich aku bohong sama kamu “ jawab Aulia.
Arni semakin sedih, dan sahabatnya pun merasa menyesali perbuatan mereka, yang telah salah memilih keputusan.
“ sekarang kita semua sudah tau apa masalah sebenernya, yang paling penting kita gak usah terlalu percaya sama omongan cowo, dan jangan melihat cowo Cuma dari fisiknya saja. Dan Cuma gara – gara satu cowo persahabatan kita hancur bagitu saja “ ( Wati menjelaskan sambil menenangkan Arni yang terus menangis ) .
Dan sejak saat itu persahabatan mereka pun kembali lagi seperti dulu. Hari – hari yang telah mereka lewati selalu ceria.


                  RINDUKU KENANGANKU


Cahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat hidupku lebih berarti. 
               Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran. 
               “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”
               Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.
* * *

Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat. 
Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.
               “Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?
               “Aku mencarimu! Kata Diana
               “Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”
               “Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.
               “Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal Diana
               Dengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya dunia di laut lepas. 

* * *
               Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan beristirahat.

* * *
               Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.
               “Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku kan? Kejut Lintang
               “Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..
               Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan sikap mereka itu.
               “Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_
               “Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)
               Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..
               “Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)
               “Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)
               “Aku sakit apa? Mana ayah?”
               “Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”
               “Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”
               “Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”
               “Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”
               “Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”
               “Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”
               “Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"

* * *
               Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.
               “Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran
               “Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”
               “Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran
               “Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”
               “Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”
               “Thengs.. siapa namamu?”
               “Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)
               Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.
               (Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.
               Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun segera menghampirinya.
               “Diana, kenapa kamu?”
               “Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”
               “Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”
               “Ii..ia bu.”
               “Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’
               “Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya parah.”
               “Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari
               “Ibu mau menjenguknya? “
               “Iya,, nggak apa-apa kan?”
               “I..ya. nggak masalah.” Semangat Diana
               Ibu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.
               Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.
Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.
               “Hai, belum pulang?" Sapa Diana
               “Hmmn. Belum Diana’
               “Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari
               “Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana
               “Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”
               “Ohh, namamu Lizy ya?”
               “Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”
               “Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”
               “Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit nih..” ajak Lizy
               “Hhhhaha….” Sambung Diana

* * *
               Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.
               “Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy
               “Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil menunduk.
               Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya
               “Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”
               “Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”
               “Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana
               “a..ku, sakit Leukimia..”
               Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan dasinya..
               “Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian kecewa”
               “Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva
               “Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari
               ( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah semuanya membeku.
               “Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”
               “Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.
               “Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari
               “walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”
               Suasana berubah menjadi hening kembali..
               “Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)
               “Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.
               Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik mencari uang.
               “Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang
               “Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”
               “ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku stabil”
               “Cepat sembuh, ya”……

* * *
Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.

Malam ku sepi..
Tak sanggup ku mengungkapkan
Air mata membendung di kelopak mataku..
Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya tersenyum. 
Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…
Kamu_sahabat_Terbaikku

               Ia simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….

3 hari kemudian…

               Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.
               Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil bernyanyi.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat duu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kitaberduka saat kita tertawa

               Ketika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.
               “Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”
               “Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang melukis.”
               “waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”
               “Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.
               “Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus Lintang
               Diana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.
               “Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana
               “Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang
               “Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana
               “Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”
               “Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy
               “Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva
               “Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha
               “hhuuhh…”
               Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.

* * *
               Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual. Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, akhirnya ikut membantu juga.
               Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak semata wayang orang tuanya. 
               Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.

* * *
               Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.
               “Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)
               “Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana
               “Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas Lizy
               Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone, suara di seberang membawa berita buruk.
               Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.

* * *

“Tak sempat ku berikan
Tak sempat ku sampaikan”
_LiDiZyVa_

Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Belum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan membacanya seperti sedang lomba baca puisi.

Sahabatku impianku
Cita-citaku imajinasiku
Bukan hal yang salah memiliki mimpi
Bukan hal yang salah mempunyai tujuan
Tujuan seperti sinar
Kesana lah kita berlari
Dan untuk itulsh kita hidup
Tapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukan
Membuat kita sulit melihat
Sehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhenti
Untuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri

               “Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya. 
               “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.
               Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.
               “Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai” 
               “Waahh..keren.!”
               Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.

SELESAI


 







  



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar