Rabu, 06 Juni 2012

Allah sebaik-baiknya pemberi cinta

Kadang saya iri melihat orang-orang di sekeliling saya,
disayangi oleh seseorang. Apalagi di bulan Februari. Di mana-mana
nuansanya Valentine. Saya memang penganut tiada pacaran sebelum akad,
tapi sebagai manusia kadang timbul juga perasaan ingin diperhatikan
secara istimewa.

Saya tidak pernah tahu rasanya candle light dinner. Pun tidak pernah
menerima bunga mawar merah. Tidak ada yang menawarkan jaketnya saat saya
menggigil kedinginan. Atau berpegangan tangan sambil melihat hujan
meteor. (Deuh, Meteor Garden banget! He..he...)

Yah, mungkin saya bisa merasakan sekilas hal-hal itu kalau saya sudah
menikah. Mungkin. Mudah-mudahan. Tapi sampai saatnya tiba, bagaimana
caranya supaya tidak kotor hati?

Lalu saya pun tersadar, tiga kata cinta yang saya rindukan itu sudah
sering saya dengar. Orang tua saya selalu mengucapkannya. Memanggil saya
dengan sayang betapapun saya telah menyusahkan dan sering menyakiti
mereka. Mungkin mereka bahkan memanggil saya seperti itu sejak saya
belum dilahirkan. Padahal belum tentu saya jadi anak yang bisa
melapangkan mereka ke surga... Belum tentu bisa jadi kebanggaan...
Jangan-jangan hanya jadi beban...

Tatapan cinta itu juga sering saya terima. Dari ibu yang bergadang
menjaga saya yang tengah demam... Dari ayah yang dulu berhenti merokok
agar bisa membeli makanan untuk saya... Dari teman yang beriring-iring
menjenguk saya ketika dirawat di rumah sakit... Dari adik yang memeluk
saya ketika bersedih. Dari sepupu yang berbagi makanan padahal ia juga
lapar. Dari orang tua teman yang bersedia mengantarkan saya pulang larut
malam. Betapa seringnya kita tidak menyadari...

Tidak hanya dari makhluk hidup. Kasih dari ciptaan Allah lainnya juga
melimpah. Matahari yang menyinari dengan hangat. Udara dengan tekanan
yang pas. Sampai cinta dari hal yang mungkin selama ini tidak
terpikirkan. Saya pernah membaca tentang planet Jupiter. Sebagai planet
terbesar di tata surya kita, Jupiter yang gravitasinya amat tinggi,
seakan menarik bumi agar tidak tersedot ke arah matahari. Benda-benda
langit yang akan menghantam bumi, juga ditarik oleh Jupiter. Kita
dijaga! (Maaf buat anak astronomi kalau salah, tapi setahu saya sih
kira-kira begitulah)

Di atas segalanya, tentu saja ada cinta Allah yang amat melimpah. Duh...
Begitu banyaknya berbuat dosa, Allah masih berbaik hati membiarkan saya
hidup... Masih membiarkan saya bersujud walau banyak tidak khusyunya.
Padahal kalau Ia mau, mungkin saya pantas-pantas saja langsung
dilemparkan ke neraka Jahannam... Coba, mana ada sih kebutuhan saya yang
tidak Allah penuhi. Makanan selalu ada. Saya disekolahkan sampai tingkat
tinggi. Anggota tubuh yang sempurna. Diberi kesehatan. Diberi kehidupan.
Apalagi yang kurang? Tapi tetap saja, berbuat maksiat, dosa... Malu...

Tentu ada ujian dan kerikil di sepanjang kehidupan ini. Tapi bukankah
itu bagian dari kasih-Nya juga? Bagaimana kita bisa merasakan kenikmatan
jika tidak pernah tahu rasanya kepedihan? Buat saudaraku yang diuji
Allah dengan cobaan, yakinlah bahwa itu cara Allah mencintai kita. Pasti
ada hikmahnya. Pasti!

Jadi, selama ini ternyata saya bukan kekurangan cinta. Saya saja yang
tidak pernah menyadarinya. Bahkan saya tenggelam dalam lautan cinta yang
begitu murni.

Sekarang pertanyaannya, apa yang telah kita lakukan untuk membalasnya?
Kalau saya, (malu nih..) sepertinya masih sering menyakiti orang lain.
Sadar ataupun tidak sadar. Kalaupun tidak sampai menyakiti, rasanya
masih sering tidak peduli dengan orang. Apalagi pada Allah... Begitu
besarnya cinta Allah pada saya dan saya masih sering menyalahgunakannya.
Mata tidak digunakan semestinya... Lisan kejam dan menyayat-nyayat...
Waktu yang terbuang sia-sia...

Kalau sudah seperti ini, rasanya iri saya pada semua hal-hal yang berbau
pacaran pra nikah hilang sudah. Minimal, berkurang drastislah. Siapa
bilang saya tidak dicintai? Memang tidak ada yang mengantar-antar saya
ke mana-mana, tapi Allah mengawal saya di setiap langkah. Tidak ada
candle light dinner, tapi ada sebuah keluarga hangat yang menemani saya
tiap makan malam. Tidak ada surat cinta, tapi bukankah Allah selalu
memastikan kebutuhan saya terpenuhi? Bukankah itu juga cinta?

Entah cinta yang resmi itu akan datang di dunia atau tidak. Tapi ingin
rasanya membalas semua cinta yang Allah ridhoi. Tulisan ini bukan untuk
curhat nasional. Yah, siapa tahu ada yang senasib dengan saya Yuk,
kita coba sama-sama. Jangan sampai ada cinta halal yang tak terbalas...
Mudah - mudah kita dapat mengambil hikmahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar