Jumat, 30 Maret 2012

Renungan


Pencarian Hidup

hidupku adalah berputar dari roda melompat ke roda
seperti rembulan bersinar yang tatkala gerhana
kembali bergelantungan menarwarkan bunga nirwana dan wewangian surga

kusematkan peluru kedalam kepalaku
kumasukan racun kedalam tubuhku
kusisipkan bisa kedalam kulitku

sudah tak sabar rasanya diriku merasakan nikmatnya surga
karena teralalu lama mengecap pahit siksa neraka dunia

bencana dunia tak akan sepedih bencana yang mengelayutan didalam hati
kegelisahan akan ketidak bergunaan
tangisan akan penyesalan

hidupku berada didalam lembah logika
hatiku menjerit berasa ingin semua segera diakhiri

sampai sekarang saya belum tahu siapa diriku, dan kenapa aku ada disini
didunia ini,

aku memohon kepada Tuhan, hidupkan kembali panutanku, aku membutuhkan sesosok
dirinya, aku ingin mencium tangannya, aku ingin menjadi pembantunya.

Berkata

telah kucoba untuk membutakan mata dan kutulikan telinga
saat bibir ini tak mampu lagi berkata
tapi, aku tak pernah mampu membutakan hati
dan menyuruhnya diam untuk berkata-kata

ketika perasaan itu datang
aku hanya mampu berusaha,
untuk tak merasakannya
namun hati ini selalu berkata bahwa
perasaan ini ada

kita memang tidak punya kata2 seperti yang mereka punya
tapi cinta tidak butuh itu semua
kita masih punya mata untuk melihat
punya hati untuk memahami
dan cinta harus diperjuangkan bagaimanapun caranya
bicaralah dengan hatimu
dengan sikapmu
karena dengan itu mereka tahu

Berani

Berani-beraninya rakyat jelata berteriak lantang kepada sang Raja. Bisa-bisanya budak lancang berkata pada Majikannya. Kurang jelas apa ketika pekatik menolak perintah juragannya. 

Kau ini punya daya apa berlaku seperti itu. Kamu itu bercermin apa berani berkata seperti itu. Dirimu itu siapa mendongak berlagak kuasa. Kau seperti ini itu ya karena kemurahannya, kau berdiri ini ya karena kebaikannya.

Hati-hati wahai yang disebut Engkau, lihat kembali siapa dirimu,  kau itu hina.....

Jurang Terjang


Berkali-kali aku mengalamai kejadian ini, berkali-kali terjatuh dan kembali berdiri. Mungkin kali ini adalah yang keseribu kali. Keseribu kali aku berdiri sendiri di ujung lembah tak bertepi. Seperti ujung jurang gelap yang tak terlihat, sukmaku meronta gila lantaran diperkosa. Seperti pecandu yang nadinya tersayat, hatiku sembilu disiram larutan gula. Aku melihat ada bintang yang bersinar terang di ujung seberang. Aku mendengar, seekor burung berkicau dengan riang. Aku membayangkan jika aku mampu keluar dari lingkaran setan, akan kutebar duka kuganti senang, kuhapus muram jadi girang kutulis puisi ini dan kukirimkan pada Tuhan.

Proposal Darwisy Kepada Tuhan


Kepada Tuhan yang berada ditempat di jagat yang tak pernah mungkin terbatasi oleh apapun. Wahai Engkau Sang Maha Sempurna, Wahai engkau Sang Maha Pemberi dari semua permintaan ataupun bukan, Wahai engkau Sang Maha Baik dengan karunai rahmat maupun cobaan, peringatan. 

Tujuan saya mengirimkan proposal ini adalah untuk mengembalikan pemberian-Mu berupa nafsu. Saya berharap bukannya saya tidak bersyukur atau apa, bukannya saya tidak tahu diri atau apa. Tapi saya belum mampu untuk menjaganya. Saya belum mampu untuk mengendalikannya. 

Sebenarnya dengan nafsu ini, saya tahu kedudukan saya sebagai mahluk tersempurna diantara mahkluk-mahkluk-Mu Tuhan, namun sayapun tahu dengan nafsu ini saya bisa memiliki kedudukan lebih terhina diantara mahkluk-mahkluk-Mu juga.

Tapi untuk saat ini saya merasa nafsu ini hanya membawa malapetaka, dengan itu saya bermaksud mengembalikannya kepada-Mu Tuhan.

PANDANGAN SENIMAN TENTANG ASAL MUASAL MANUSIA

Kita menyakini sebenarnya Bapa Adam dan Ibu Hawa itu bukan penduduk asli planet bumi ini. Mereka berdua adalah imigran, pendatang dari sorga. Melihat proses kepindahan mereka dari sorga, sebagaimana tercatat dalam lembaran kitab suci, boleh jadi mereka tidak diberi tahu, bahwa sejak awal mereka memang dipersiapkan untuk tinggal-sementara-di planet kecil ini.

Karena itu ~wallahu a’lam~ tidak sebagaimana penduduk sorga yang lain, Bapa Adam dan Ibu Hawa diciptakan dari bahan campuran yang sebagaian besar dari unsur bumi: tanah; dan sebagian yang lain dari unsur sorga: nur. Atau dengan ungkapan lain: mereka diciptakan dari tanah yang kemudian ditiupkan padanya ruh.

Bumi ini sendiri konon pernah dihuni oleh makhluk Allah yang diciptakan dari api (setan) dan asap (jin). Lalu mereka membuat kerusakan di muka bumi. Boleh jadi diantara kerusakan yang mereka perbuat adalah pencemaran terhadap tanah. Atau sebenarnya tanah yang menjadi bahan utama Bapa Adam dan Ibu Hawa itu sendiri aslinya memang sudah mempunyai kandungan api dan asap yang kemudian mewujud dalam apa yang sering disebut nafsu dan amarah. Wallahu a’lam.

Yang dari tanah ada yang kasat mata, yaitu jasad; ada yang tidak; yaitu nafsu dan amarah. Sementara yang dari nur atau ruh, tidak kasat mata. Kelak ketika mereka berdua menetap di bumi dan beranak-pinak, keturunan mereka pun masih memiliki “DNA” dengan unsur-unsur tersebut. Keturunan mereka yang disebut manusia, memiliki jasad yang kasat mata dan ruh, nafsu, serta amarah yang tak terlihat. Mereka memilih dalam diri mereka, kecuali kalbu atau hati nurani yang bersifat sorgawi. Disamping otak yang bisa diindra, mereka memiliki jiwa atau akal budi yang tak terindra.

Semua yang berasal dari tanah seperti jasad, nafsu, dan amarah, dimiliki juga oleh umumnya hewan. Hanya saja hewan tidak memiliki unsur nurani. Ini yang membedakan. Oleh karena itu, manusia yang tidak menyadari atau mengabaikan nuraninya, sering disebut tidak manusiawi alias hewani.

Boleh jadi karena dominasi unsur tanah yang dari bumi itulah yang membuat manusia menyukai bumi, sering kali bahkan berlebih-lebihan. Berbeda dengan nenek-moyangnya, Bapa Adam dan Ibu Hawa yang asli kelahiran sorga, umumnya manusia cenderung menganggap bumi atau secara maknawi juga disebut dunia ini sebagai tempat tinggal, menetap. Maklum Bapa Adam dan Ibu Hawa sedikit banyak sudah merasakan nikmatnya tinggal di sorga, sehingga bumi atau dunia ini bagi mereka hanyalah merupakan tempat transit sebelum kembali ke tempat tinggal asalnya. Bahkan mungkin mereka berdua tidak merasa nyaman di tempat transit ini, lantaran kerinduan dan ketidak sabaran mereka untuk kembali ke ‘kampung halaman’ mereka.

Hatiku Pecah Lagi

Hatiku pecah lagi
Dosaku melimpahi
Setiap urat nadi
Hatiku pecah lagi
Janji pada Allah  tidak terlunasi
Kantung amalku ringan tidak terpenuhi
Hatiku pecah lagi
Sesak dunia fana ini
Aku ditengahnya terhimpit diri

Hatiku pecah lagi
Tangis rindu padaMu ya Rabbi
Makin jauh atau mampirkah diri ini
Hatiku pecah lagi
Jiwa selimut ghaflah duniawi
Parah menjerit sendiri
Hatiku pecah lagi
CintaMu ingin kudakapi
Retorikkah atau hanya ilusi

Hatiku pecah lagi
Jalan menemuiMu
Seringku tangguhi
Hatiku pecah lagi
Ya Allah
Tidak ingin aku selain dariMu
Hanya Redha CintaMu puncak harapanku
Hanya mengingatiMu ingin kujejaki..
Hanya RahmahMu ingin kujelajahi
Ingin lari dari selainMu
Ingin uzlah dari mimpiku
Ingin tajrid ghaflah duniaku

Agar
Hatiku tidak pecah lagi
Agar
Hatiku selesa memugar rahasia
Pekat malam hari

Anyel karo awakku dewe

Opo sakjane, ono wong kang pancen diciptakne dadi wong kang ala? Koyoto firaun kang diciptakne dadi wong kang ala dumadi musuh e Nabi Musa. Umpamane ora ana wong koyo Firaun, terus opo kang dadi tugas e Nabi Musa?
Setan makhluk e Gusti Allah, sing mbangkang ora gelem nurut i dawuh,  sujud marang Nabi Adam, yen setan kala kuwi gelem nurut i dawuh e Gusti Allah sujud marang Nabi Adam, terus musuh e wong ning ndonyo iki sopo?

Kula nyuwun ngapunten sakderenge marang Gusti Allah amergi pikiran-pikiran niki tersirat ning awang-awang. Anyel banget karo awakku dewe iki, nyapo kok dadi wong apik kuwi angel tenan?


Mugi-mugi sedoyo saget ngelampahi panguripan niki persis koyo dawuhipun Gusti Allah marang kitab suci Al’Quran lan biso nindakake koyo tuladhane Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Mugi-mugi kita sedoyo terus pikantuk rahmatipun Gusti Allah lan Syafaatipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Aku memohon kepada Tuhan semesta penguasa hati setiap Manusia

Aku memohon kepada Tuhan semesta penguasa hati setiap Manusia, Sang Maha Cinta dengan rahmatnya, Sang Maha Pemurah dengan Ampunannya, Sang Maha Iba melihat hambanya tak berdaya dianiyaya.

Aku telah lama hidup dalam dunia, menyelam kedalam hina, terluka karena duri-duri derita. Tuhan demi namamu Sang Maha Iba, lepaskan aku dari semua luka, Tuhan demi hati kecil yang telah hitam karena dosa, lepaskan tali yang terus menungganginya. Tuhan berilah aku Cinta yang mampu kembali menjadikan hatiku seperti cahaya,

Tuhan buatkanlah lentera yang tak pernah padam menerangi jalannya darah menuju kedepan, tak salah alir berbelok memberi makan sumber dorongan berbuat haram. Tuhanku kepada siapa lagi aku meminta cinta jika tidak kepadaMu Sang Maha Cinta, Tuhanku kepada siapa lagi aku mengadu saat diriku dibelenggu nafsu. Tuhanku tariklah aku kedalam pelukan rahmatMu. Tuhanku berilah aku senjata melawan keburukan dalam diriku.

Memilih Lorong

Disaat saya memegang pena ini, saya masih berada dalam percabangan jalan yang harus kupilih dengan bijak. Semua jalan memiliki tujuan dan berakhir terang. Disaat kebingungan untuk memilih mana yang harus kudapaki, akhirnya saya terduduk lunglai memandangi setiap ujung jalan. Mas Detri memilih jalan kiri, mas Afif memilih jalan kanan, dan mas Ubaid memilih jalan tengah. Dan aku telah mendengar semua cerita di ujung jalan yang mereka pilih masing-masing. Cuma dari mas Detri yang belum saya dengar langsung dari mulut beliau, tetapi saya sudah bisa membanyangkan keadaan dan kondisi di ujung sana.

Disaat saya tetep terduduk lunglai, berbondong-bondong manusia menyalipku dan memasuki setiap lorong-lorong jalan yang mereka pilih. Dan saya masih belum bisa memilih yang mana. Karena jika saya memutuskan untuk masuk salah satu, saya harus terus berjalan sampai akhir tujuan. Tidak ada jalan balik. Dan setiap jalan ini memiliki ujung yang baik, tapi mana jalan ini yang cocok untuk saya.

Gejolak ini selalu bergelora mengombang-ambingkan bahtera hati, belum ketika sebuah badai tiba-tiba muncul dan menerpa layar bahtera ini, seperti mau hancur singgasana yang telah dibangun dengan susah payah. Saat ini saatnya untuk berlayar, saat untuk memilih jalan, jangan pikirkan belakang, jangan pikirkan jalan lain. Jangan menengok kesebelah jalan orang lain. Tetapkan hati pada jalan pilihan. Jalan terabas yang aku pilih. Semoga ridhoNya, rahmatNya dan karuniaNya selalu bersama menjadi lentera sepanjang jalan terabas yang aku lalui ini. Semoga junjungan kanjeng Nabi tersenyum dengan melihatku memilih jalan terabas ini. Dan semoga ibunda, dan ayahhanda bangga memiliki seorang putra yang memilih jalan terabas ini.

Berfikir Dengan Hati

Hadapi dengan senyuman, jangan beritakan kabar kesedihan namun sebarkanlah kabar-kabar kebahagiaan. Berusaha bijak, di hati sedang dalam kuasa entah tak tahu siapa.

Rencana, visi, misi, angan, dan mimpi, semua adalah bahan bakar sumber dari penyesalan dan kecewa. Karena penyesalan dan kecewa tak lain adalah air mata hati yang suci akibat ketamakkan sebuah khayalan yang diciptakan oleh fikiran.

Disaat rencanamu, mimpimu, dan visimu kau buang lalu kau berjalan tanpa mengetahuai arah, namun engkau terus berjalan, hatimulah yang akan menjadi sebuah pelita menentukan kemana kakimu harus melangkah. Dan engkau tak akan merasakan sakit ketika kerikil menusuk kaki karena itu memang adalah kehendak dari hati.
Cobalah sejenak berfikir dengan fikiranmu, adakah pernah engkau menyesali keberadaan ikan dilautan, adakah kekecewaan dengan langit berwarna biru, terlintaskan kemarahan karena kicauan burung dihutan. Tak ada rencana, tak ada mimpimu akan mereka, sehingga mustahilah ada penyesalan dan kekecewaan dengan keadaan mereka.

Begitu juga dengan hidupmu, penyesalan dan kekecewaan itu muncul karena ada rencana darimu untuk hidupmu. Cobalah buang semua rencana hanyalah pegang satu kata, jangan biarkan waktumu hilang dengan berencana, gunakan sepernano detik setiap umurmu untuk mengerjakan urusanmu, dan segeralah berpindah ke urusan yang lain ketika urusan yang satu selesai.

Biarkan setiap cuil sekecil apapun adegan drama yang kau perankan berjalan spontan. Buang hapus rencanamu gantilah dengan rencana agung dari langit oleh Sang Maha Berencana. Perankan bagianmu seasli mungkin, sealami mungkin, tanpa kau buat-buat karena riak rencana-rencana kerdilmu. Yang perlu kau lakukan adalah hanya memainkan lakon yang kau peroleh, dan jangan sekali-kali kau ikut campur dengan rencanya agung-Nya untukmu dengan rencana-rencana kerdilmu.

Hijrah Dari Kegelapan Menuju Padang Mbulan

udul artikel ini merupakan gabungan dari kata-kata yang dikarang oleh Cak Emha Ainun Najib. Kata disini sangat mengandung makna mistikus arti, sungguh beliau benar-benar seorang kyai, budayawan, dan sastrawan luar biasa yang saya kagumi.
Sebenarnya dalam artikel ini sedikit saja saya menjelaskan tentang hasil renungan dan taffakur semalam ketika usiaku genap berumur 20 tahun. Dimalam itu saya terus berintrospeksi diri selama usiaku ini. Saya merasa belum bisa apa-apa, belum melakukan apa-apa. Melihat semua orang sudah terbang jauh tinggi, diri ini hanya bisa terpukau melihatnya.
Sabar, kata sabar yang terlintas dalam besitan pikiran.
Sabar merupakan Proses, dan Proses Merupakan Gerakan(Tindakan Menuju Perubahan)
Merenungi setiap makna kata Sabar, Proses, dan Gerakan. Menafsirkan Relasi dari ketiga kata itu.

Menemukan Makna Hidup Harus Disyukuri

idup perlu disyukuri, itulah kata yang aku temukan disebuah kedai warung cak Wins di daerah kertajaya Surabaya. Ketika selesai menyantap hidangan dan tak sengaja mata memandang sebelah kiri agak jauhan terdapat dua sejoli yang sedang makan berdua.

Entah mengapa aku sangat bahagia melihat mereka, tidak ada rasa iri ingin diposisi mereka, namun merasa ikut bahagia, ikut tersenyum melihat mereka tersenyum, serasa aku juga bisa merasakan kebahagian mereka. Melihat dua sejoli itu sedang bercanda dan tersenyum simpul, sungguh melihat itu aku juga merasa sangat bahagia. Setelah keluar dari kedai makan itu, diriku masih saja heran kenapa aku bisa merasakan ikut berbahagia seperti ini, padahal aku bukan siapa-siapa mereka. Dengan melihat mereka saja aku sudah bersyukur. Dari situ aku mendapatkan sebuah makna, hidup harus disyukuri dan dinikmati. Tidak ada yang susah dalam hidup ini, aku masih bisa makan 3 kali sehari, orang tua masih selalu memenuhi semua kebutuhanku, tapi selalu saja aku sering merasa susah dalam menjalani hidup akhir-akhir ini.
Tapi semenjak kejadian itu, aku berencana tidak akan lagi merasakan susah dalam hidup ini, setiap hembus nafas, setiap kedipan mata, setiap detak jantung. Hal yang pernah terjadi setiap saat diwaktu tertentu ditempat tertentu tidak akan pernah sama, jadi tak ada alasan bagiku lagi untuk merasa bosan ataupun merasa susah. Karena setiap pendengaran, penglihatan, perasaan yang aku rasakan tidak akan pernah terulang, dan itu menjadi indah karenanya.

Setiap alunan musik ditelinga, setiap belaian hembusan angin menerpa, setiap irama alam dan manusia dalam memutar roda, setiap itulah kebahagiaan ada. Tinggal diriku yang dulu buta tak memperhatikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar